vfVhymenUzKJZBtuc4xcn47AG410gaBoiC4BEUGo
Bookmark

Cara Melawan Ketakutan Menulis

Bagaimana cara melawan ketakutan menulis? Menjadi seorang penulis itu seutuhnya bukan pilihan, tapi paksaan! Kalau kita tidak mau dipaksa, ya.. jangan mimpi jadi penulis. Kurang lebih itulah cara saya memotivasi diri dalam memacu semangat menulis yang baru satu tahun lebih telah “menyengat” diri saya. Sebenarnya, banyak cara yang dilakukan untuk melejitkan motivasi diri untuk menulis. Cara dan pendekatan berbeda sering kali dianggap remeh, namun bisa jadi itu adalah jalan terbaik yang harus diambil untuk memulai.

Para pembaca juga pasti sudah memiliki cara sendiri untuk menulis, mengingat sudah banyak referensi dan kiat yang diberikan oleh para penulis senior yang sudah menulis ratusan buku dan ribuan artikel. Terlepas dari semua itu, bagi saya jalan “pemaksaan” masih menjadi trik terbaik untuk dapat menjadi seorang penulis yang istiqamah. Mungkin para pembaca ada yang kurang setuju dengan kata “paksaaan” yang saya gunakan. Bisa jadi, ada yang senang dengan kata latihan, tekun, pembiasaan dan sebagainya. Hal ini tidak menjadi masalah, karena pada inti dan tujuannya adalah sama, yaitu kiat melejitkan kemampuan menulis.

Menulis bagi sebagian orang masih menjadi sebuah ketakutan. Takut salah, takut tulisan jelek, takut tidak dibaca, takut ditolak penerbit, takut merusak dunia kesastraan dan sebagainya. Ketahuilah, pembaca yang budiman, dalam dunia menulis “ketakutan” itu adalah musuh besar yang harus dihadapi, dilawan, dan dikalahkan. Jangan pernah biarkan ia tumbuh dalam pikiran kita, apalagi sampai berkembang biak dan akan melahirkan beberapa virus ketakutan baru. Virus baru yang lebih berbahaya dari ketakutan itu sendiri, virus itu adalah penyakit “Inferiority complex” atau merasa rendah diri.

Merasa tidak dapat berbuat apa-apa, tidak percaya diri, tidak ada semangat, tidak bisa menulis dan akhirnya seperti kata anak jaman sekarang “gagal move-on”. Jika penyakit “ketakutan” dan “inferiority complex” masih melekat dalam diri kita, maka dapat diramalkan urutan Indonesia dikancah dunia akan lebih merosot lagi dari tangga 60 menjadi tangga 70 dalam kontek minat baca. Padahal jika dibandingkan dengan negara lain Indonesia seharusnya menjadi negara nomor 1 dalam kontek membaca dan menulis.

Secara realistis saja kita berpikir, andaikan penulis menerbitkan bukunya, maka ada sekitar ratusan juta masyarakat yang akan membaca karyanya. Buakankan itu adalah hal yang fantastis. Namun justru kita kalah dengan para penulis-penulis dari negara lain. Negara yang penduduknya lebih kecil dari negara kita. Contohnya, Singapura, Taiwan, Korea Selatan, Jepang dan sebaginya. Bahkan tulisan-tulisan dari negara lain justru banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, mengingat begitu minim para penulis berasal dari negara kita sendiri.

Melihat fenomena menulis yang begitu complex dalam masyarakat kita sekarang ini, Saya semakin confident dengan trik “pemaksaan” yang saya gunakan untuk mencambuk semangat menulis saya. Alasan yang paling mendasar kenapa saya menggunakan istilah “paksaan” karena pada saat sekarang di era milenial yang cukup instant ini, semakin berat tantangan untuk menjadi orang yang punya komitmen dalam menulis. Era milenial ini memaksa generasi muda lebih senang bermain games di Hp mereka. Lebih banyak SMS, lebih suka membawa iphone, note book daripada menenteng buku dan membacanya. Beginilah realita jaman sekarang, hal tersebut juga tidak dapat dihindari. Tetapi harus pegang kendali.

Realita kekinian, menjadi tantangan tersendiri dalam memajukan literasi. Maka butuh kesungguh-sungguhan dan ketekunan untuk memulai. Terlebih dalam memberikan pancingan dan bujukan kepada generasi muda untuk lebih cinta baca, daripada cinta WA. Pancingan untuk lebih cinta Buku daripada cinta Facebook.

Pembaca yang budiman, dari beberapa point yang telah terurai di atas, dapatlah kita pahami bersama bahwa untuk menjadi penulis hebat itu butuh percaya diri untuk bisa. Serta, praktek immediately bukan sekadar belajar teori. Teori itu penting. Namun, mempraktikkan teori itu jauh lebih penting? Sanggupkah kita melawan ketakutan itu? Hal itu akan bisa terwujud jika kita memaksa diri untuk memulainya. Membuang rasa takut untuk mencoba. Serta mengubur rasa inferior terhadap kemampuan pada diri kita masing-masing.

Pada akhirnya, penulis yang baik adalah pembaca yang baik pula. Begitulah amanat dosen saya Dr. Syamsudin Arif penulis buku “Islam dan Diabolisme Intelektual”. Lebih lanjut beliau berpesan “Jika kamu ingin menjadi penulis hebat, maka kamu harus menjadi pembaca yang hebat, karena dengan membaca banyak maka amunisi untuk menulis juga penuh”. The last but not least, dengan niat yang lurus mari kita mencoba menjadi HAMKA baru, A. Hasan baru untuk mewarnai dunia ini dengan tinta dan semangat menulis kita yang baru.

Sumber foto: cdn-images-1.medium.com

Posting Komentar

Posting Komentar